Selasa, 07 Mei 2013

Studi Wisata Solo



Nama   : Octaviani Triandieny
NIM    : 12/328684/SP/25063
Studi Wisata Solo
Mahasiswa Komunikasi UGM angkatan 2012 mengadakan studi wisata ke beberapa tempat di Kota Solo pada 2 Mei 2012. Rombongan Mahasiswa berangkat dari Yogyakarta pukul 08:00 WIB dan tiba di Solo pukul 10:00. Tempat pertama yang dikunjungi oleh rombongan Mahasiswa Komunikasi UGM adalah Lokananta. Setibanya di Lokananta, kami mengadakan diskusi dengan beberapa karyawan yang bekerja di Lokananta. Beberapa diantaranya adalah Bapak Pendi Heryadi yang menjabat sebagai Kepala Cabang Lokananta, Ibu Tutik yang menangani bagian accounting, Bapak Andi menangani bagian koordinir studio rekaman dan Bapak Bembi menangani bagian dokumen lagi yang berada di Lokananta.
Pada awal diskusi Bapak Pendi Heryadi menjelaskan mengenai sejarah singkat Lokananta. Lokananta merupakan perusahaan rekaman musik pertama  di Indonesia yang didirikan pada 1956. Sejak berdirinya, Lokananta mempunyai dua tugas besar, yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam dan kemudian cassette audio. Pada masa awal berdinya Lokananta memasuki masa kejayaannya karena menjadi pelopor dunia rekaman di Indonesia, hampir semua masyarakat Indonesia mengetahui  dan mengenal Lokananta. Banya aris hebat dan terkenal yang berhasil diterbitkan oleh Lokananta seperti Titiek Puspa, Walajinah dan Gersang. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1990 Lokananta memasuki masa kemunduran. Hal ini disebabkan oleh maraknya pembajakan dan munculnya lebel-lebel rekaman. Pada akhrinya Lokananta mengalami paiit pada tahun 2000. Awalnya Lokananta berada dibawah Departemen Penerengan, namun setelah Departemen Penerangan dibubarkan Lokananta menjadi cabang Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).
Selanjutnya diskusi membuka sesi tanya jawab dengan enam pertanyaan untuk sesi tanya jab pertama. Ada beberapa pertanyaan yang beasal dari Dian Christianty, Anggita Rimadani, Karlina Fajri, Ardha Bryan Kharisma, Brilianda Imam Barkah dan Aji. Pertanyaan tersebut diantaranya:
1.      Apakah musisi pada era sekarang ada yang rekaman di Lokananta?
2.      Apakah Lokananta itu merupakan Productioun House sehingga dapa menerbitkan artis?
3.      Setelah ada konser di salah satu stasiun TV swasta mengenai Lokananta, apakah hal tesebut membawa pengaruh kepada Lokananta?
4.      Apakah ati nama Lokananta? Bagaimana bila ingin rekaman di Lokananta dan berpa biayanya?
5.      Bagaimana cara Lokananta untuk bangkit setelah mengalami pailit?
6.      Darimana sumber dana Lokananta?
Bapak Pendi Heryadi dan beberpa karyawan lain seperti Ibu Tutik, Bapak Andi dan Bapak Bembi bergantian untuk mejawab pertanyaan-pertanyaan terebut. Untuk pertanyaan dari Dian Christianty, Bapak Pendi Heryadi menjelaskan bahwa arti nama Lokananta berasal dari nama seperangkat gamelan Suralaya yang berbunyi sendiri. Pertanyaan selanjutnya mengenai Lokananta yang dapat menerbitkan artis dikarenakan Lokananta merupakan mayor lebel rekaman di Indonesia dan anggota prtama Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dengan nomor anggota 001. Selanjutnya, mengenai adanya konser di salah satu stasiun televisi swasta ternyata membawa pengaruh yang baik untuk Lokananta, seperti adanya kunjungan sejarah hampir setiap harinya. Lokananta merasa sangat terbantu karena televisi swasta dan beberapa media cetak secara suka rela mempromosikan Lokananta. Untuk sumber dana Lokananta, Bapak Pendi Haryadi menjelskan bahwa sumber dana murn berasal dari usaha sendiri, tidak ada mata anggaran. Salah satu langkah untuk menambah pembiayaan Lokananta adalah menyewakan beberapa tempat yang tidak terpakai di Lokananta. Namun, unuk pembayaran PBB, PNRI membantu sebesar Rp 300.000,00. Pertanyaan mengenai beberapa artis di era sekarang yang rekaman di Lokananta, ternyata artis ternama seperti Glenn Fredly pernah rekaman di Lokananta dan mengadakan live musik. Selain Glenn Fredly juga ada efek rumah kaca dan White Shoes & The Couples Company. Bapak Andi juga menuturkan bahwa Lokananta juga sudah mulai melakukan kerja sama untuk membuat gamelan touch screen yang disebut e-gamelan.  Hal ini dilakukan untuk menjada kelestarian gamelan, bukan hanya fisik dari gamelan saja namun jugasuara atau audio dari gamelan.
Setelah semua pertanyaan dari sesi pertanyaan yang pertama terjawab, diskusi memasuki sesi pertanyaan yang kedua. Pertanyaan berasal dari Tiyassari Basara, Nadia Makhya Azhari, Yesandia Oktolawenda, dan Inggrith Margaretha. Pertanyaan tersebut diantaranya:
1.      Usaha apa yang dilakukan oleh Lokananta untuk menangani pembajakan?
2.      Apakah Lokananta hanya melakukan kegiatan rekaman atau samai proses editing dan pembuatan album?
3.      Darimana asal alat-alat yang berada di Lokananta? Mengapa Lokananta tidak mencoba menjadi swasta?
4.      Bagaimana cara agar Lokananta tetap eksis?
Pembajakan merupakan salah satu penyebab Lokananta mengalami masa kemunduran, sangat sulit untuk mengatasi pembajakan tersebut. Menurut Bapak Pendi, telah ditemukan 629 kasus pembajakan. Mengenai aktivitasnya, Lokananta tidak hanya melakukan proses rekaman saja namun sampai proses produksi dan pemasaran. Selanjutya alat-alat yang berada di Lokananta berasal dari pmerinta yang rata-rata dari Eropa dan Amerika. Megenai pengelolaan Lokananta yang tidak mencoba menjadi Swasta, Bapak Pendi menjelaskn bahwa memang banyak yang berkeinginan untuk mengelola Lokananta namun Lokananta merupakan aset  milik Negara apabila diswastakan maka akan mengakibatkan prolbematika besar. Untuk sekarang ini, Lokananta sedang berusaha untuk menjadi Museum Musik Indonesia. Lokananta pernah memasuki masa kemunduran, maka ada beberapa usaha agar Lokananta tetap eksis, diantarabya dengan enjual dokumen-dokumen yang dimiliki Lokananta dan merilis ilang lagu-lagu lama.
Diskusi dilanjutnka ke sesi pertanyaa yang ketiga, dengan Diaz Septriana, Shintya Rahman, dan Immaculata Desti Ariani yang mengajukan beberapa pertanyaan, diantarannya:
1.      Berapakah jumlah kayawan di Lokananta pada masa kejayaan? Bagaimana dengan karyawan yang ada setelah memasuki masa kemunduran?
2.      Bagaiamana tanggapan Lokananta dengan adanya isu mengenai pemusnahan pita kaset?
3.      Bagaimana pihak Lokananta menerima keberanian anak muda yang menghasilkan atau memperbaharui kebudayaan?
4.      Apakah Lokananta juga melakukan proses pekejing?
Pada masa kejayaannya, Lokananta memiliki 50 karyawan yang terdiri dari karyawan RRI dan Biro Kepegawaian. Pada tahun 1998 sampai tahun 2001, Lokananta terkatung-katung sampai selesai Likuidasi. Para karyawan yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sippil (PNS) dikembalikan ke RRI dan Biro Kepegawaian, sehingga sampai sekarang hanya tersisa 19 karyawan.  Dengan adanya isu mengenai pemusnahan pita kaset, Lokanata akan tetp menyimpan beberapa aset miliknya. Lokananta juga sedang berusaha untuk mengubah image budaya sehingga anak muda juga tertarik ke Lokananta. Untuk proses pekejing, Lokananta juga melakukan proses pekejing.
Setelah sesi pertanyaan yang ketiga terjawb semua, diskusi diakhiri. Para mahasiswa Komunikasi UGM 2012 dipersilahkan untuk melihat-lihat Lokananta. Pertama-tama, Bapak Andi memperlihatkan mixer, speaker dan peralatan lainnya yang digunakan untuk proses rekaman. Selanjutnya kami memasuki ruangan-ruangan lain, seperti Ruang Piringan Hitam Mater, dalam ruangan tersebut terdapat 40.000 keping piringan hitam. Selain Ruang Piringan Hitam Master juga terdapat Ruang Persediaan, Ruang Produksi, Ruang Re-Mastering, Ruang Pita Master, Ruang Kasir, Ruang Kepala Cabang dan Ruang Museum. Di dalam Ruang Museum terdapat alat-alat seperti Power Amplifier, Echo Recording, Euqalizer, Reverberation, Patern Generator, Pengganda Kaset, pengganda kaset slave, mesin pemotong pita, quality control dan lain-lain.
Dua jam tidak terasa telah dihabiskan untuk mempelajari Lokananta, mulai dari sejarah dan berbagai hal menegenai Lokananta. Pukul 12:30 Mahasiswa Komunikasi UGM tahun 2012 meninggalkan Lokananta menuju tempat selanjutnya, yaitu Monumen Pers Nasional. Sesampainya di Monumen Pers Nasional, kami disambut dengan bangunan yang mengesankan. Pada awal kunjungan di Monumen Pers Nasional, kami diperlihatkan video mengenai sejarah dan profil Monumen Pers Nasional. Monumen Pers Nasional disahkan oleh Presiden Soeharto pada 9 Febuari 1978. Gedung yang digunakan sebagai Monumen Pers Nasional ini mulannya sebuah societeit milik kerabat Mangkunegaran, gedung ini dibangun oleh KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada tahun 1918. Di gedung ini pula dilaksanakan kongres watawan pejuang kemerdekaan Indonesia yang melahirkan Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Febuari 1946. Akhirnya  Presiden Soeharto meremiskan gedung societiet Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan penandatanganan prasasti pada 9 Februaru 1978. Selajutnya Monumern Pers Nasional dikelola oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional yang berada di bawah Departemmen Penerangan. Pada tahun 2002, Monumen Pers Nasional berada di bawah Badan Informasidan Komunikasi Nasional karena Departemen Penerangan dilikuidasi. Kemudia pada tahun 2005 Monumen Pers Nasional berada di bawah Direktorat Jebdral Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Departemen Komunikasi dan Informatika.
Monumen Pers Nasional memiliki tugas dan fungsi pokok yaitu melestarikan produk pers nasional yang bernilai sejarah dan memberikan pelayanan infomasi kepada masyarakat mengenai Monumen Pers Nasional. Terdapat beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh masyarakat seperti Media Center yang dapat digunakan untuk mengakses intenet secara geratis, Papan Baca yang memasang beberapa surat kabar sehingga dapat dibaca secara geratis oleh masyarakat, Perpustakaan yang terbuka untuk umum, perpustakaan Monumen Pers Nasional ini memiliki 12.000 eksemplar buku. Dokumentasi yang menyimpan lebih dari satu juta eksemplar bukti terbit media cetak dari seluruh Indonesia. Beberapa fasilitas lainnya yaitu roset dan kunjungan ilmiah, mobil layanan internet. pameran dan seminar.
Setelah penayangan video sejarah dan profil Monumen Pers Nasional, kami dipersilahkan untuk melihat-lihat seluruh bagian dan koleksi yang dimiliki oleh Monumen Pers Nasional. Beberapa benda pers bersejarah yang dimiliki oleh Monumern Pers Nasional yaitu diorama pertama, diorama kedua, diorama ketiga, diorama keempat, diorama kelima, diorama keenam. Diorama-diorama ini menceritakan perkembangan pers dan informasi di Indonesia. Selanjutnya terdapat microfilm dan baju wartawan Hendro Subroto. Kemudian terdapat juga portable mixer yang digunakan untuk siaran dai istana antara tahun 1949 sampai 1966 dan pemancar radio kambing. Beberapa koleksi lainnya yaitu peralatan terjun payung Trisno Yuwono, kamera kuno,  telephone antar stasiun, beberapa mesin ketik kuno, kamera wartawan Fuad Muhammad Syafrudin, plat cetakan perdana Koran kedaulatan rakyat, mesin ketik Bakrie Soeriatmadja, beberapa contoh majalah kuno dan beberapa patung perintis pers Indonesia. Patung perintis pers Indonesia ini terdiri dari patung R. Darmosoegito, R. Bakrie Soeriatmadja, Soetopo Wonobojo, R.M Bintarti, Dr Abdul Rival, DR. GSSJ Ratulangie, RM. Tirto Adhi Soeryo, Dr Danuadirdja Setiabudi, Djamaludin Adinegoro dan R.M. Soedarjo Tjokrosisworo.
Puas melihat-lihat koleksi bersejarah yang dimiliki oleh Monumen Pers Nasional, rombongan mahasiwa Komunikasi UGM 2012 melanjutkan perjalanan menuju Festival Film Solo. Di Festival Film Solo kami hanya sempat menonton satu film pendek yang berjudul “Damn It V” yang berdurasi selama enam belas menit. Tak lama setelah pemutaran film Damn It V, kami kembali menuju Yogyakarta dan sampai di Yogyakarta pukul 20:00 WIB.
Dapat disimpulkan bahwa studi wisata ke beberapa tempat di Solo seperti Lokananta, Monumen Pers Nasional dan Festival Film Solo memeberikan banyak manfaat dan pelajaran bagi mahasiswa Komunikasi UGM 2012. Dengan adanya kunjungan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai berbagai tempat dan benda-benda bersejarah pers. Selain hal itu, kunjungan tersebut menimbulkan kesadaran Mahasiswa Komuniksi UGM untuk ikut turut serta menjaga, melestarikan dan menghormati peninggalan-peninggalan sejarah pers yang berharga.