Nama : Octaviani Triandieny
NIM : 12/328684/SP/25063
Studi Wisata Solo
Mahasiswa
Komunikasi UGM angkatan 2012 mengadakan studi wisata ke beberapa tempat di Kota
Solo pada 2 Mei 2012. Rombongan Mahasiswa berangkat dari Yogyakarta pukul 08:00
WIB dan tiba di Solo pukul 10:00. Tempat pertama yang dikunjungi oleh rombongan
Mahasiswa Komunikasi UGM adalah Lokananta. Setibanya di Lokananta, kami
mengadakan diskusi dengan beberapa karyawan yang bekerja di Lokananta. Beberapa
diantaranya adalah Bapak Pendi Heryadi yang menjabat sebagai Kepala Cabang
Lokananta, Ibu Tutik yang menangani bagian accounting,
Bapak Andi menangani bagian koordinir studio rekaman dan Bapak Bembi
menangani bagian dokumen lagi yang berada di Lokananta.
Pada
awal diskusi Bapak Pendi Heryadi menjelaskan mengenai sejarah singkat
Lokananta. Lokananta merupakan perusahaan rekaman musik pertama di Indonesia yang didirikan pada 1956. Sejak
berdirinya, Lokananta mempunyai dua tugas besar, yaitu produksi dan duplikasi
piringan hitam dan kemudian cassette
audio. Pada masa awal berdinya Lokananta memasuki masa kejayaannya karena
menjadi pelopor dunia rekaman di Indonesia, hampir semua masyarakat Indonesia
mengetahui dan mengenal Lokananta. Banya
aris hebat dan terkenal yang berhasil diterbitkan oleh Lokananta seperti Titiek
Puspa, Walajinah dan Gersang. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1990
Lokananta memasuki masa kemunduran. Hal ini disebabkan oleh maraknya pembajakan
dan munculnya lebel-lebel rekaman. Pada akhrinya Lokananta mengalami paiit pada
tahun 2000. Awalnya Lokananta berada dibawah Departemen Penerengan, namun
setelah Departemen Penerangan dibubarkan Lokananta menjadi cabang Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (PNRI).
Selanjutnya
diskusi membuka sesi tanya jawab dengan enam pertanyaan untuk sesi tanya jab
pertama. Ada beberapa pertanyaan yang beasal dari Dian
Christianty, Anggita Rimadani, Karlina Fajri, Ardha Bryan Kharisma, Brilianda
Imam Barkah dan Aji. Pertanyaan tersebut diantaranya:
1.
Apakah
musisi pada era sekarang ada yang rekaman di Lokananta?
2.
Apakah
Lokananta itu merupakan Productioun House sehingga dapa menerbitkan artis?
3. Setelah
ada konser di salah satu stasiun TV swasta mengenai Lokananta, apakah hal
tesebut membawa pengaruh kepada Lokananta?
4. Apakah
ati nama Lokananta? Bagaimana bila ingin rekaman di Lokananta dan berpa
biayanya?
5. Bagaimana
cara Lokananta untuk bangkit setelah mengalami pailit?
6. Darimana
sumber dana Lokananta?
Bapak Pendi Heryadi dan beberpa karyawan lain
seperti Ibu Tutik, Bapak Andi dan Bapak Bembi bergantian untuk mejawab
pertanyaan-pertanyaan terebut. Untuk pertanyaan dari Dian Christianty, Bapak Pendi Heryadi menjelaskan bahwa
arti nama Lokananta berasal dari nama seperangkat gamelan Suralaya yang
berbunyi sendiri. Pertanyaan selanjutnya mengenai Lokananta yang dapat
menerbitkan artis dikarenakan Lokananta merupakan mayor lebel rekaman di
Indonesia dan anggota prtama Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dengan
nomor anggota 001. Selanjutnya, mengenai adanya konser di salah satu stasiun
televisi swasta ternyata membawa pengaruh yang baik untuk Lokananta, seperti
adanya kunjungan sejarah hampir setiap harinya. Lokananta merasa sangat
terbantu karena televisi swasta dan beberapa media cetak secara suka rela mempromosikan
Lokananta. Untuk sumber dana Lokananta, Bapak Pendi Haryadi menjelskan bahwa sumber
dana murn berasal dari usaha sendiri, tidak ada mata anggaran. Salah satu
langkah untuk menambah pembiayaan Lokananta adalah menyewakan beberapa tempat
yang tidak terpakai di Lokananta. Namun, unuk pembayaran PBB, PNRI
membantu sebesar Rp 300.000,00. Pertanyaan mengenai beberapa artis di era
sekarang yang rekaman di Lokananta, ternyata artis ternama seperti Glenn Fredly
pernah rekaman di Lokananta dan mengadakan live
musik. Selain Glenn Fredly juga ada efek rumah kaca dan White Shoes &
The Couples Company. Bapak Andi juga menuturkan bahwa Lokananta juga sudah
mulai melakukan kerja sama untuk membuat gamelan touch screen yang disebut e-gamelan. Hal ini dilakukan untuk menjada kelestarian
gamelan, bukan hanya fisik dari gamelan saja namun jugasuara atau audio dari
gamelan.
Setelah semua pertanyaan dari sesi pertanyaan yang
pertama terjawab, diskusi memasuki sesi pertanyaan yang kedua. Pertanyaan
berasal dari Tiyassari Basara, Nadia Makhya Azhari,
Yesandia Oktolawenda, dan Inggrith Margaretha. Pertanyaan tersebut diantaranya:
1.
Usaha
apa yang dilakukan oleh Lokananta untuk menangani pembajakan?
2.
Apakah
Lokananta hanya melakukan kegiatan rekaman atau samai proses editing dan
pembuatan album?
3.
Darimana
asal alat-alat yang berada di Lokananta? Mengapa Lokananta tidak mencoba
menjadi swasta?
4.
Bagaimana
cara agar Lokananta tetap eksis?
Pembajakan merupakan salah satu penyebab Lokananta
mengalami masa kemunduran, sangat sulit untuk mengatasi pembajakan tersebut.
Menurut Bapak Pendi, telah ditemukan 629 kasus pembajakan. Mengenai
aktivitasnya, Lokananta tidak hanya melakukan proses rekaman saja namun sampai
proses produksi dan pemasaran. Selanjutya alat-alat yang berada di Lokananta
berasal dari pmerinta yang rata-rata dari Eropa dan Amerika. Megenai
pengelolaan Lokananta yang tidak mencoba menjadi Swasta, Bapak Pendi menjelaskn
bahwa memang banyak yang berkeinginan untuk mengelola Lokananta namun Lokananta
merupakan aset milik Negara apabila
diswastakan maka akan mengakibatkan prolbematika besar. Untuk sekarang ini,
Lokananta sedang berusaha untuk menjadi Museum Musik Indonesia. Lokananta
pernah memasuki masa kemunduran, maka ada beberapa usaha agar Lokananta tetap
eksis, diantarabya dengan enjual dokumen-dokumen yang dimiliki Lokananta dan
merilis ilang lagu-lagu lama.
Diskusi dilanjutnka ke sesi pertanyaa yang ketiga,
dengan Diaz Septriana, Shintya Rahman, dan
Immaculata Desti Ariani yang mengajukan beberapa pertanyaan, diantarannya:
1. Berapakah
jumlah kayawan di Lokananta pada masa kejayaan? Bagaimana dengan karyawan yang
ada setelah memasuki masa kemunduran?
2. Bagaiamana
tanggapan Lokananta dengan adanya isu mengenai pemusnahan pita kaset?
3. Bagaimana
pihak Lokananta menerima keberanian anak muda yang menghasilkan atau
memperbaharui kebudayaan?
4. Apakah
Lokananta juga melakukan proses pekejing?
Pada
masa kejayaannya, Lokananta memiliki 50 karyawan yang terdiri dari karyawan RRI
dan Biro Kepegawaian. Pada tahun 1998 sampai tahun 2001, Lokananta
terkatung-katung sampai selesai Likuidasi. Para karyawan yang sudah menjadi
Pegawai Negeri Sippil (PNS) dikembalikan ke RRI dan Biro Kepegawaian, sehingga
sampai sekarang hanya tersisa 19 karyawan.
Dengan adanya isu mengenai pemusnahan pita kaset, Lokanata akan tetp
menyimpan beberapa aset miliknya. Lokananta juga sedang berusaha untuk mengubah
image budaya sehingga anak muda juga
tertarik ke Lokananta. Untuk proses pekejing, Lokananta juga melakukan proses
pekejing.
Setelah
sesi pertanyaan yang ketiga terjawb semua, diskusi diakhiri. Para mahasiswa
Komunikasi UGM 2012 dipersilahkan untuk melihat-lihat Lokananta. Pertama-tama,
Bapak Andi memperlihatkan mixer, speaker
dan peralatan lainnya yang digunakan untuk proses rekaman.
Selanjutnya kami memasuki ruangan-ruangan lain, seperti Ruang Piringan Hitam
Mater, dalam ruangan tersebut terdapat 40.000 keping piringan hitam. Selain
Ruang Piringan Hitam Master juga terdapat Ruang Persediaan, Ruang Produksi,
Ruang Re-Mastering, Ruang Pita Master, Ruang Kasir, Ruang Kepala Cabang dan
Ruang Museum. Di dalam Ruang Museum terdapat alat-alat seperti Power Amplifier,
Echo Recording, Euqalizer, Reverberation, Patern Generator, Pengganda Kaset,
pengganda kaset slave, mesin pemotong pita, quality control dan lain-lain.
Dua
jam tidak terasa telah dihabiskan untuk mempelajari Lokananta, mulai dari
sejarah dan berbagai hal menegenai Lokananta. Pukul 12:30 Mahasiswa Komunikasi
UGM tahun 2012 meninggalkan Lokananta menuju tempat selanjutnya, yaitu Monumen
Pers Nasional. Sesampainya di Monumen Pers Nasional, kami disambut dengan
bangunan yang mengesankan. Pada awal kunjungan di Monumen Pers Nasional, kami
diperlihatkan video mengenai sejarah dan profil Monumen Pers Nasional. Monumen
Pers Nasional disahkan oleh Presiden Soeharto pada 9 Febuari 1978. Gedung yang
digunakan sebagai Monumen Pers Nasional ini mulannya sebuah societeit milik
kerabat Mangkunegaran, gedung ini dibangun oleh KGPAA Sri Mangkunegoro VII pada
tahun 1918. Di gedung ini pula dilaksanakan kongres watawan pejuang kemerdekaan
Indonesia yang melahirkan Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Febuari 1946.
Akhirnya Presiden Soeharto meremiskan
gedung societiet Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan
penandatanganan prasasti pada 9 Februaru 1978. Selajutnya Monumern Pers
Nasional dikelola oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional yang berada di
bawah Departemmen Penerangan. Pada tahun 2002, Monumen Pers Nasional berada di
bawah Badan Informasidan Komunikasi Nasional karena Departemen Penerangan
dilikuidasi. Kemudia pada tahun 2005 Monumen Pers Nasional berada di bawah
Direktorat Jebdral Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Departemen
Komunikasi dan Informatika.
Monumen
Pers Nasional memiliki tugas dan fungsi pokok yaitu melestarikan produk pers
nasional yang bernilai sejarah dan memberikan pelayanan infomasi kepada
masyarakat mengenai Monumen Pers Nasional. Terdapat beberapa fasilitas yang
dapat dinikmati oleh masyarakat seperti Media Center yang dapat digunakan untuk
mengakses intenet secara geratis, Papan Baca yang memasang beberapa surat kabar
sehingga dapat dibaca secara geratis oleh masyarakat, Perpustakaan yang terbuka
untuk umum, perpustakaan Monumen Pers Nasional ini memiliki 12.000 eksemplar
buku. Dokumentasi yang menyimpan lebih dari satu juta eksemplar bukti terbit
media cetak dari seluruh Indonesia. Beberapa fasilitas lainnya yaitu roset dan
kunjungan ilmiah, mobil layanan internet. pameran dan seminar.
Setelah
penayangan video sejarah dan profil Monumen Pers Nasional, kami dipersilahkan
untuk melihat-lihat seluruh bagian dan koleksi yang dimiliki oleh Monumen Pers
Nasional. Beberapa benda pers bersejarah yang dimiliki oleh Monumern Pers
Nasional yaitu diorama pertama, diorama kedua, diorama ketiga, diorama keempat,
diorama kelima, diorama keenam. Diorama-diorama ini menceritakan perkembangan pers
dan informasi di Indonesia. Selanjutnya terdapat microfilm dan baju wartawan
Hendro Subroto. Kemudian terdapat juga portable mixer yang digunakan untuk
siaran dai istana antara tahun 1949 sampai 1966 dan pemancar radio kambing.
Beberapa koleksi lainnya yaitu peralatan terjun payung Trisno Yuwono, kamera
kuno, telephone antar stasiun, beberapa
mesin ketik kuno, kamera wartawan Fuad Muhammad Syafrudin, plat cetakan perdana
Koran kedaulatan rakyat, mesin ketik Bakrie Soeriatmadja, beberapa contoh
majalah kuno dan beberapa patung perintis pers Indonesia. Patung perintis pers
Indonesia ini terdiri dari patung R. Darmosoegito, R. Bakrie Soeriatmadja,
Soetopo Wonobojo, R.M Bintarti, Dr Abdul Rival, DR. GSSJ Ratulangie, RM. Tirto
Adhi Soeryo, Dr Danuadirdja Setiabudi, Djamaludin Adinegoro dan R.M. Soedarjo
Tjokrosisworo.
Puas
melihat-lihat koleksi bersejarah yang dimiliki oleh Monumen Pers Nasional,
rombongan mahasiwa Komunikasi UGM 2012 melanjutkan perjalanan menuju Festival
Film Solo. Di Festival Film Solo kami hanya sempat menonton satu film pendek
yang berjudul “Damn It V” yang berdurasi selama enam belas menit. Tak lama
setelah pemutaran film Damn It V, kami kembali menuju Yogyakarta dan sampai di
Yogyakarta pukul 20:00 WIB.
Dapat
disimpulkan bahwa studi wisata ke beberapa tempat di Solo seperti Lokananta,
Monumen Pers Nasional dan Festival Film Solo memeberikan banyak manfaat dan
pelajaran bagi mahasiswa Komunikasi UGM 2012. Dengan adanya kunjungan tersebut
dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai berbagai tempat dan benda-benda
bersejarah pers. Selain hal itu, kunjungan tersebut menimbulkan kesadaran
Mahasiswa Komuniksi UGM untuk ikut turut serta menjaga, melestarikan dan
menghormati peninggalan-peninggalan sejarah pers yang berharga.