MENGENALKAN PANGAN LOKAL
Selama ini tela atau singkong
dianggap sebagai makanan yang kurang populer karena tela identik dengan makanan
desa. Masyarakat pada umumnya cenderung lebih menyukai makanan-makanan cepat
saji. Masyarakat kurang menyadari bahwa tela mempunyai potensi menjadi makanan
favorit dan menarik apabila dikemas atau diolah dengan baik. Peluang bisnis
pengembangan tela atau singkong menjadi sangat mungkin melihat potensi sumber
daya alam dalam hal ini tanaman tela begitu melimpah di Indonesia pada umumnya
dan Yogyakarta pada khususnya. Salah satu bentuk inovasi dari pengembangan
bisnis tela yang cukup dikenal dan inovatif adalah pengembangan tela menjadi
makanan-makanan ringan yang terjangkau dari sisi harga, menyehatkan,
mengenyangkan namun tetap menarik bagi masyarakat. Beberapa bentuk inovasi
tersebut adalah tela cake, ice cream tela dan donat tela, seperti yang
dikembangkan oleh anak muda Yogyakarta bernama Firmansyah Budi dengan brand atau merek Cokro Tela. Firmansyah
Budi mampu melihat potensi yang dimiliki oleh tela bila diolh dan dikemas
dengan inovasi-inovasi baru. Namun dengan adanya begitu banyak inovasi dala
pengembangan tela apakah masyarakat dapat mengubah stigma tentang tela adalah
makanan desa. Bagaimana Firmansyah Budi mampu mendapat perhatian masyarakat
dengan tela cakenya ?
Kurang lebih pada tahun 2004
Firmansyah Budi memulai usaha yang memanfaatkan bahan dasar tela. Memang tidak
langsung berhasil menciptakan kreasi makanan dari tela karena kesulitan untuk
menemukan resep yang tepat. Setelah melalui sebuah proses yang panjang pada
akhirnya Firmansyah Budi menemukan komposisi dan resep baru mengenai makanan
berbahan dasar tela yaitu tela cake yang dibuat dengan berbagai macam pilihan
rasa. Ada rasa keju, coklat, pandan, blueberry, strawbewrry, mocca dan pandan
keju. Setelah berhasil menemukan komposisi dan resep yang pas, Firmansyah Budi
menemui beberapa kendala diantaranya bagaimana mengenalkan kepada masyarakat
produk barunya ini. Hal ini dikarenakan belum begitu dikenalnya cake berbahan
dasar tela.
Strategi awal pemasaran prodak tela tersebut adalah bekerjasama
dengan ukm-ukm yang ada di masyarakat (Rsigit, 2011:10 ). Mengenalkan kepada masyarakat sebuah inovasi baru yaitu cake
dengan berbahan dasar 101 persen tela. Sebagai langkah awal pemasaran dan promosi tersebut bisa dikatakan belum cukup
berhasil. Masyarakat cenderung berfikir apatis terkait dengan cake berbahan
dasar tela. Seiring dengan perkembangan teknologi seperti internet maka
Firmansyah Budi mencoba mencari alternatif pemasaran dengan cara mempromosikan
produknya melalui internet.
Pada tahun 2010 pemerintah mulai
gencar mengkampanyekan pangan lokal seperti tela dan jagung. Salah satu program
pemerintah yaitu penganekaragaman pangan berbasis pangan lokal. Melihat peluang
itu, Firmansya Budi berinisiatif melakukan kerja sama dengan pemerintah guna mengenalkan
produk tela cakenya. Baik melalui promosi, mengikuti pameran dan bekerjasama
dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan ( BKPP ) dan Dinas Pariwisata.
Bentuk kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) dilakukan
dalam bentuk mengikuti pameran yang diadakan ataupun yang diikuti BKPP. Seperti
bila BKPP mengadakan dan mengikuti kegiatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di
tingkat provinsi atau nasional dalam bentuk pameran-pameran makanan lokal, maka
Cokro Tela mengikuti kegiatan tersebut. Dalam pameran Hari Pangan Sedunia (HPS)
yang memerkan pangan lokal tentunya akan menarik perhatian masyarakat luas. Hal
ini memberi kesempatan Cokro Tela Cake unutuk mempromosikan produknya kepada
masyarakat yang datang untuk menyaksikan pameran pangan lokal dalam rangka
peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS). Selain bekerjsama dengan Badan Ketahanan
Pangan dan Penyuluhan Provinsi DIY, Cokro Tela Cake juga bekerjasama dengan
Dinas Pariwisata. Bentuk kerjasama tersebut adalah dengan mendorong agar produk
Cokro Tela Cake menjadi salah satu buah tangan bagi wisatawan mancanegara
ataupun wisatawan nusantara. Yogyakarta adalah salah satu daerah yang kaya akan
pariwisatanya, hal ini membuat Cokro Tela Cake semaikin dikenal oleh masyarakat
karena Cokro Tela Cake menjadi salah satu oleh-oleh khas.
Selain bekerjasama dengan
pemerintah, Cokro Tela Cake juga sering mengadakan atau mengikuti
festival-festival untuk mengenalkan atau mempromosikan produknya. Mengundang
masyarakat untuk berapresiasi dalam festival tersebut. Sebagai contoh, festival
yang diadakan di Sewandanan Pakualam. Festival ini merupakan bagian dari
Festival Tela Indonesia (FTI) yang digelar Cakra Tela ( Jogjanews.com/Anam,
2011 : 7 ). Festival seperti ini tidak hanya di gelar sekali namun berulangkali
dengan mengundang masyarakat untuk berapresiasi dengann kegiatan-kegiatan yang
ada dalam festival tersebut. Semakin banyak masyarakat yang mengikuti festival
berarti semakin banyak pula yang mengetahui produk Cokro Tela Cake.
Segala kegiatan promosi dalam
berbagai bentuk telah dilakukan oleh Firmansyah Budi untuk mengenalkan prduk
tela cakenya kepada masyarakat luas. Sehingga sekarang ini Tela Cake sudah
banyak diketahui oleh masyarakat khusunya masyaraka Yogyakarta. Bahkan Cokro
Tela Cake menjadi sebuah oleh-oleh khas yang wajib dibeli bila mengunjungi
Yogyakarta bagi wisatawan-wisatawan. Setelah berbagai kegiatan promosi
dilakukan sehingga membawa nama Cokro Tela cukup terkenal di masyarakat
Yogyakarta, kini Cokro Tela Cake sudah empunyai beberapa cabang di Yogyakarta. Hal
ini membuktikan bahwa Firmansyah Budi pemilik Cokro Tela Cake berhasil menarik
perhatian masyarakat dengan berbagai usaha promosi untuk mengonsumsi tela dalam
bentuk cake yang diciptakannya.