Sabtu, 15 September 2012

MENGENALKAN PANGAN LOKAL #BRIDGINCOURSE4



MENGENALKAN PANGAN LOKAL
            Selama ini tela atau singkong dianggap sebagai makanan yang kurang populer karena tela identik dengan makanan desa. Masyarakat pada umumnya cenderung lebih menyukai makanan-makanan cepat saji. Masyarakat kurang menyadari bahwa tela mempunyai potensi menjadi makanan favorit dan menarik apabila dikemas atau diolah dengan baik. Peluang bisnis pengembangan tela atau singkong menjadi sangat mungkin melihat potensi sumber daya alam dalam hal ini tanaman tela begitu melimpah di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta pada khususnya. Salah satu bentuk inovasi dari pengembangan bisnis tela yang cukup dikenal dan inovatif adalah pengembangan tela menjadi makanan-makanan ringan yang terjangkau dari sisi harga, menyehatkan, mengenyangkan namun tetap menarik bagi masyarakat. Beberapa bentuk inovasi tersebut adalah tela cake, ice cream tela dan donat tela, seperti yang dikembangkan oleh anak muda Yogyakarta bernama Firmansyah Budi dengan brand atau merek Cokro Tela. Firmansyah Budi mampu melihat potensi yang dimiliki oleh tela bila diolh dan dikemas dengan inovasi-inovasi baru. Namun dengan adanya begitu banyak inovasi dala pengembangan tela apakah masyarakat dapat mengubah stigma tentang tela adalah makanan desa. Bagaimana Firmansyah Budi mampu mendapat perhatian masyarakat dengan tela cakenya ?
            Kurang lebih pada tahun 2004 Firmansyah Budi memulai usaha yang memanfaatkan bahan dasar tela. Memang tidak langsung berhasil menciptakan kreasi makanan dari tela karena kesulitan untuk menemukan resep yang tepat. Setelah melalui sebuah proses yang panjang  pada akhirnya Firmansyah Budi menemukan komposisi dan resep baru mengenai makanan berbahan dasar tela yaitu tela cake yang dibuat dengan berbagai macam pilihan rasa. Ada rasa keju, coklat, pandan, blueberry, strawbewrry, mocca dan pandan keju. Setelah berhasil menemukan komposisi dan resep yang pas, Firmansyah Budi menemui beberapa kendala diantaranya bagaimana mengenalkan kepada masyarakat produk barunya ini. Hal ini dikarenakan belum begitu dikenalnya cake berbahan dasar tela.
            Strategi awal pemasaran prodak tela tersebut adalah bekerjasama dengan ukm-ukm yang ada di masyarakat (Rsigit, 2011:10 ). Mengenalkan kepada masyarakat sebuah inovasi baru yaitu cake dengan berbahan dasar 101 persen tela. Sebagai langkah awal pemasaran dan  promosi tersebut bisa dikatakan belum cukup berhasil. Masyarakat cenderung berfikir apatis terkait dengan cake berbahan dasar tela. Seiring dengan perkembangan teknologi seperti internet maka Firmansyah Budi mencoba mencari alternatif pemasaran dengan cara mempromosikan produknya melalui internet.
            Pada tahun 2010 pemerintah mulai gencar mengkampanyekan pangan lokal seperti tela dan jagung. Salah satu program pemerintah yaitu penganekaragaman pangan berbasis pangan lokal. Melihat peluang itu, Firmansya Budi berinisiatif melakukan kerja sama dengan pemerintah guna mengenalkan produk tela cakenya. Baik melalui promosi, mengikuti pameran dan bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan ( BKPP ) dan Dinas Pariwisata. Bentuk kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) dilakukan dalam bentuk mengikuti pameran yang diadakan ataupun yang diikuti BKPP. Seperti bila BKPP mengadakan dan mengikuti kegiatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di tingkat provinsi atau nasional dalam bentuk pameran-pameran makanan lokal, maka Cokro Tela mengikuti kegiatan tersebut. Dalam pameran Hari Pangan Sedunia (HPS) yang memerkan pangan lokal tentunya akan menarik perhatian masyarakat luas. Hal ini memberi kesempatan Cokro Tela Cake unutuk mempromosikan produknya kepada masyarakat yang datang untuk menyaksikan pameran pangan lokal dalam rangka peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS). Selain bekerjsama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi DIY, Cokro Tela Cake juga bekerjasama dengan Dinas Pariwisata. Bentuk kerjasama tersebut adalah dengan mendorong agar produk Cokro Tela Cake menjadi salah satu buah tangan bagi wisatawan mancanegara ataupun wisatawan nusantara. Yogyakarta adalah salah satu daerah yang kaya akan pariwisatanya, hal ini membuat Cokro Tela Cake semaikin dikenal oleh masyarakat karena Cokro Tela Cake menjadi salah satu oleh-oleh khas.
            Selain bekerjasama dengan pemerintah, Cokro Tela Cake juga sering mengadakan atau mengikuti festival-festival untuk mengenalkan atau mempromosikan produknya. Mengundang masyarakat untuk berapresiasi dalam festival tersebut. Sebagai contoh, festival yang diadakan di Sewandanan Pakualam. Festival ini merupakan bagian dari Festival Tela Indonesia (FTI) yang digelar Cakra Tela ( Jogjanews.com/Anam, 2011 : 7 ). Festival seperti ini tidak hanya di gelar sekali namun berulangkali dengan mengundang masyarakat untuk berapresiasi dengann kegiatan-kegiatan yang ada dalam festival tersebut. Semakin banyak masyarakat yang mengikuti festival berarti semakin banyak pula yang mengetahui produk Cokro Tela Cake.
            Segala kegiatan promosi dalam berbagai bentuk telah dilakukan oleh Firmansyah Budi untuk mengenalkan prduk tela cakenya kepada masyarakat luas. Sehingga sekarang ini Tela Cake sudah banyak diketahui oleh masyarakat khusunya masyaraka Yogyakarta. Bahkan Cokro Tela Cake menjadi sebuah oleh-oleh khas yang wajib dibeli bila mengunjungi Yogyakarta bagi wisatawan-wisatawan. Setelah berbagai kegiatan promosi dilakukan sehingga membawa nama Cokro Tela cukup terkenal di masyarakat Yogyakarta, kini Cokro Tela Cake sudah empunyai beberapa cabang di Yogyakarta. Hal ini membuktikan bahwa Firmansyah Budi pemilik Cokro Tela Cake berhasil menarik perhatian masyarakat dengan berbagai usaha promosi untuk mengonsumsi tela dalam bentuk cake yang diciptakannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar